Sosialisasi Perbedaan Antara Ayam Potong Segar Dengan Ayam Tiren

2025-07-05 0 comments kominfo

Semarang, 21 Juni 2025 - Dalam rangka menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN), mahasiswa Universitas Diponegoro yang ditempatkan di Desa Meteseh, Kecamatan Tembalang, menggelar penyuluhan mengenai “Perbedaan Kualitas Daging Ayam Segar dan Daging Tiren” kepada para ibu-ibu PKK RT 02/ RW 19, Kelurahan Meteseh. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 Juni 2025, bertempat di Tempat salah satu warga, dan berlangsung dari pukul 16.00 hingga 17.00 WIB.Penyuluhan ini bertujuan untuk memberikan edukasi kepada masyarakat, khususnya kaum ibu rumah tangga, agar lebih cermat dalam memilih daging ayam yang layak konsumsi. Hal ini penting untuk mencegah dampak kesehatan yang bisa ditimbulkan dari konsumsi daging tiren, seperti gangguan pencernaan dan keracunan makanan.Materi disampaikan dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, dengan menjelaskan ciri-ciri utama dari masing-masing jenis daging, di antaranya:Daging ayam segar: berwarna cerah, tidak berlendir, berbau segar khas daging, dan memiliki tekstur kenyal.

Daging ayam tiren:berwarna pucat atau kebiruan, berlendir, berbau busuk atau amis menyengat, dan cenderung lembek.Kegiatan ini juga melibatkan sesi tanya jawab interaktif, di mana para ibu PKK terlihat antusias dan aktif bertanya. Banyak di antara mereka yang mengaku selama ini belum sepenuhnya memahami ciri-ciri daging tiren dan merasa terbantu dengan adanya penyuluhan ini.Pada saat acara dimulai, para peserta diberikan leaflet edukatif yang berisi ringkasan materi serta tips memilih daging ayam segar di pasar. Mahasiswa juga mengajak masyarakat untuk lebih waspada dan melaporkan jika menemukan pedagang yang menjual daging ayam yang mencurigakan.Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para ibu PKK di Desa Meteseh dapat menjadi agen perubahan dalam memastikan keamanan pangan keluarga dan lingkungan sekitarnya.

Hambatan Selama Kegiatan reportase tersebut, khususnya terkait tidak adanya demonstrasi langsung pemilihan daging di lapangan menjadi salah satu kelemahan dalam penyuluhan ini. Karena keterbatasan tempat dan sarana, mahasiswa hanya bisa menyampaikan materi melalui gambar dan contoh visual cetak. Hal ini membuat peserta kurang bisa melihat langsung perbedaan tekstur, bau, dan kondisi daging secara nyata, sehingga pemahaman mereka belum sepenuhnya optimal. Beberapa peserta bahkan menyampaikan harapan agar ke depannya dapat dilakukan praktik langsung di pasar atau menggunakan sampel asli agar lebih mudah membedakan secara nyata.