Sampah Dapur Jadi Berkah: Cerita Warga Meteseh Belajar Membuat Eco-Enzyme Bersama Tim EcoAction UNDIP 2026

2026-07-22 0 comments meteseh

 

Pagi itu, Kamis 16 Juli 2026, halaman Balai Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pukul delapan, warga sudah berdatangan, untuk mengikuti kegiatan edukasi dan pelatihan pembuatan eco-enzyme dari sampah organik. Bagi banyak dari mereka, sampah dapur selama ini hanya berakhir di tempat sampah depan rumah, tanpa pernah terpikir bisa diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Kegiatan ini juga melibatkan Bapak Joko Rahmantoko, S.Tr., selaku Lurah Meteseh beserta jajaran, Bapak Yusuf Ma'rifat Fajar Azis, ST, MT, selaku Dosen Pembimbing EcoAction SDGs 2026, serta Bapak Arkhan Subari, ST, M.Kom., selaku Ketua Pelaksana International Summer Course 2026. Peserta kegiatan juga melibatkan mahasiswa Jiangsu Shipping College, China, mahasiswa Politeknik Maritim Negeri Indonesia (Polimarin), mahasiswa KKN-T 124 Universitas Diponegoro, pengurus Bank Sampah ”Sami Berkah”, serta masyarakat Kelurahan Meteseh.

“Selama ini kulit jeruk, kulit nanas, sisa sayur, ya langsung saya buang saja dengan campur sampah lain. Tidak kepikiran kalau itu bisa dibuat cairan yang katanya bisa jadi pupuk sama pembersih,” ujar salah satu warga RW 6 yang ikut hadir dalam kegiatan tersebut. Ia mengaku awalnya datang hanya karena diajak tetangga, namun akhirnya mengikuti seluruh rangkaian acara hingga selesai.

Kegiatan ini merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang digagas oleh Kelompok Mahasiswa EcoAction, Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri, Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro. Warga diajak memahami permasalahan sampah organik yang selama ini mendominasi timbulnya sampah rumah tangga, sekaligus dikenalkan pada konsep Reduce, Reuse, Recycle (3R) dan pemanfaatan eco-enzyme sebagai solusi sederhana yang bisa dipraktikkan sendiri di rumah.

Yang membuat warga semakin antusias, kegiatan ini juga menghadirkan sosialisasi Bank Sampah “Sami Berkah” milik RW 6 yang sudah lebih dulu berjalan di lingkungan Meteseh. Bagi sebagian warga, hal ini menjadi pengingat bahwa fasilitas pengelolaan sampah sebenarnya sudah ada di sekitar mereka, hanya saja belum banyak yang memanfaatkannya secara maksimal. “Ternyata bank sampah kami sendiri sudah punya wadah yang bisa dimanfaatkan. Semoga setelah ini lebih banyak yang mau setor dan olah sampah organik juga,” tutur salah satu peserta lain yang juga pengurus lingkungan setempat.

 

Suasana semakin hidup ketika sesi praktik dimulai. Warga dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, mencampur limbah buah, molase, dan air ke dalam wadah fermentasi, didampingi langsung oleh siswa. Banyak yang baru pertama kali mendengar istilah eco-enzyme, namun setelah mencoba langsung, mereka merasa proses pembuatannya cukup sederhana dan bisa ditiru di rumah. “Saya kira bikinnya susah dan butuh alat khusus, ternyata hanya modal ember, sisa buah, sama gula. Nanti mau coba bikin sendiri di rumah pakai sisa dapur sehari-hari,” kata salah satu ibu rumah tangga yang ikut serta dalam praktik tersebut.

Selain menambah pengetahuan, warga juga merasa senang bisa berinteraksi langsung dengan mahasiswa dari berbagai latar belakang, termasuk peserta dari mahasiswa KKN Undip, Politeknik Maritim Negeri Indonesia, hingga mahasiswa asal Jiangsu Shipping College, China, yang ikut hadir dalam rangkaian International Summer Course 2026. Kehadiran mereka membuat suasana kegiatan terasa berbeda dan menambah semangat warga untuk mengikuti acara hingga tuntas.

Di penghujung acara, setiap peserta membawa pulang contoh produk eco-enzyme beserta leaflet panduan pembuatan dan pemanfaatannya. Bagi warga Meteseh, kegiatan ini bukan sekadar pelatihan satu hari, melainkan bekal untuk mulai mengubah kebiasaan mengelola sampah dapur menjadi sesuatu yang lebih bernilai, sekaligus juga menjaga lingkungan tempat mereka tinggal agar tetap bersih dan sehat untuk jangka panjang.

Let us know what you think

* Required field

Comments (0)