Mahasiswa KKN Undip Dukung Pencapaian SDGs 2, SDGs 3, dan SDGs 12 melalui Edukasi Higiene Dapur dan Pencegahan Kontaminasi Silang dalam Pengolahan Daun Kelor di Meteseh

2026-08-05 0 comments kominfo

Semarang – Balai RT 10 RW 21 Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang menjadi lokasi pelaksanaan program kerja mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Diponegoro bertajuk "Inovasi Olahan Pangan Berbasis Daun Kelor sebagai Upaya Peningkatan Gizi Masyarakat." Salah satu materi yang disampaikan dalam kegiatan ini adalah edukasi mengenai Higiene Dapur dan Kontaminasi Silang dengan tema "Dapur Bersih, Olahan Khas Kelor Lebih Sehat" dan "Cegah Kontaminasi Silang." Materi ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya keamanan pangan dalam proses pengolahan daun kelor agar produk yang dihasilkan tetap bergizi, berkualitas, dan aman dikonsumsi.

Kegiatan ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 2 (Zero Hunger) melalui pemanfaatan daun kelor sebagai sumber pangan bergizi, SDG 3 (Good Health and Well-being) dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai praktik pengolahan pangan yang aman dan higienis, serta SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui penerapan pengolahan pangan yang bertanggung jawab dan memperhatikan aspek keamanan pangan.

Materi disampaikan oleh Yohana Putri Pertiwi Koehoe, mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro. Pemaparan diawali dengan penjelasan mengenai pentingnya menjaga kebersihan dapur sebagai langkah awal dalam menghasilkan olahan daun kelor yang aman dikonsumsi. Peserta diberikan edukasi mengenai lima langkah higiene dapur, yaitu mencuci tangan sebelum dan sesudah mengolah makanan, mencuci daun kelor menggunakan air mengalir, menggunakan peralatan yang bersih, membersihkan meja kerja setelah digunakan, serta menyimpan makanan dalam wadah tertutup agar kualitas dan keamanannya tetap terjaga.

Selain itu, peserta juga diberikan pemahaman mengenai kontaminasi silang, yaitu perpindahan bakteri atau mikroorganisme dari bahan mentah, peralatan, maupun permukaan kerja ke makanan siap konsumsi. Melalui contoh-contoh yang dekat dengan aktivitas sehari-hari, peserta diajak memahami pentingnya memisahkan talenan untuk bahan mentah dan matang, mencuci pisau serta peralatan setelah digunakan, menyimpan bahan pangan secara terpisah, dan menjaga kebersihan area dapur guna meminimalkan risiko pencemaran pangan.

Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta tampak antusias mengikuti pemaparan materi serta aktif berbagi pengalaman mengenai kebiasaan mengolah makanan di rumah. Booklet edukasi yang dibagikan kepada peserta turut membantu mempermudah pemahaman mengenai penerapan higiene dapur dan pencegahan kontaminasi silang, sehingga materi dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat mampu menerapkan praktik higiene dapur dan pencegahan kontaminasi silang secara konsisten dalam mengolah pangan berbasis daun kelor maupun bahan pangan lainnya. Dengan demikian, pangan yang dihasilkan tidak hanya memiliki nilai gizi yang tinggi, tetapi juga aman dikonsumsi, sehingga berkontribusi dalam mendukung ketahanan pangan keluarga, meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, serta mewujudkan pola konsumsi dan produksi pangan yang bertanggung jawab sesuai dengan SDG 2 (Zero Hunger), SDG 3 (Good Health and Well-being), dan SDG 12 (Responsible Consumption and Production).