Edukasi Nilai Anti Bullying Melalui Storytelling di PAUD Sidomulyo, Kelurahan Meteseh

2025-07-05 0 comments kominfo

Semarang, 28 Mei 2025 – Dalam upaya menanamkan nilai-nilai anti bullying sejak usia dini, kelompok mahasiswa TIM KKN-T 124  menyelenggarakan kegiatan edukatif di Pos PAUD Sidomulyo yang berlokasi di RT 01 RW 07, Kelurahan Meteseh, Tembalang. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu anak-anak memahami pentingnya sikap saling menghargai dan tidak menyakiti teman, baik secara fisik maupun verbal.

Program ini dilatarbelakangi oleh kesadaran akan pentingnya pencegahan bullying sedini mungkin, mengingat bahwa perilaku tidak menyenangkan antar teman bisa muncul bahkan di lingkungan anak usia dini. Namun, konsep “bullying” yang masih abstrak bagi anak-anak menuntut metode pendekatan yang kreatif dan menyenangkan.

Melalui metode storytelling dengan boneka karakter, anak-anak diajak memahami situasi sederhana yang sering mereka alami, seperti mengejek nama teman atau menertawakan penampilan. Cerita yang dibawakan menampilkan dua karakter utama, Pindul dan Bobon, yang menunjukkan bagaimana tindakan kecil bisa berdampak pada perasaan dan hubungan sosial. Anak-anak diajak berdiskusi dan merespon cerita secara aktif, sehingga nilai-nilai empati dan menghargai sesama bisa dipahami dengan cara yang lebih dekat dan menyenangkan.

Kegiatan ini menyasar sebanyak 55 anak usia dini dan dilengkapi dengan media lagu anak bertema anti bullying. Selain memberikan hiburan, media-media ini juga memperkuat pesan moral yang ingin ditanamkan.

Dalam kegiatan ini, mahasiswa KKN-T 124 bertanggung jawab atas perancangan cerita, penyusunan dialog sesuai usia anak, hingga pelaksanaan teknis kegiatan. Salah satu anggota tim juga turut menjadi pengisi suara karakter dalam story telling serta mengarahkan jalannya interaksi agar berjalan komunikatif dan bermakna.

Kegiatan ini mendapatkan dukungan dari Ibu Darwanti selaku Ketua PAUD, serta dari Kelurahan Meteseh melalui koordinasi dan perizinan, yang berperan penting dalam kelancaran pelaksanaan program. Dukungan tersebut mencerminkan kolaborasi antara mahasiswa, lembaga pendidikan, dan pemerintah setempat dalam menciptakan lingkungan yang ramah anak dan bebas dari bullying.

Hasil evaluasi menunjukkan dampak positif. Jika pada pre-test anak-anak belum memahami makna tindakan tidak menyenangkan, maka pada post-test mereka mulai bisa menjawab pertanyaan seputar perilaku bullying dengan antusias. Ketika ditanya, “Bagaimana seharusnya Pindul meminta maaf kepada Bobon setelah mengejek?”, beberapa anak langsung mengangkat tangan untuk menjawab, menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan.

Sebagai tindak lanjut, video dokumentasi kegiatan serta lagu edukatif yang digunakan dalam program akan diserahkan kepada pihak PAUD untuk digunakan kembali sebagai media pembelajaran lanjutan.

Program ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, dan bebas dari tindakan bullying, dimulai dari generasi paling muda.